TAPUT – SMP Negeri 3 Siborongborong, Kabupaten Tapanuli Utara, menjadi sorotan publik setelah sejumlah awak media mendatangi sekolah tersebut dan menemukan pintu gerbang utama dalam kondisi tergembok. Situasi ini memunculkan asumsi adanya upaya pembatasan akses terhadap pers sekaligus menimbulkan pertanyaan serius terkait transparansi pengelolaan sekolah.
Upaya konfirmasi kepada Kepala Sekolah SMP Negeri 3 Siborongborong melalui sambungan telepon maupun pesan WhatsApp tidak membuahkan hasil. Hingga berita ini diturunkan, Kepala Sekolah tidak memberikan respons, baik dengan mengangkat panggilan maupun membalas pesan yang dikirimkan oleh awak media.
Kondisi tersebut semakin memicu tanda tanya ketika sejumlah guru di sekolah mengaku tidak mengetahui keberadaan Kepala Sekolah pada saat itu. Hal ini menimbulkan pertanyaan publik mengenai pola kepemimpinan dan komunikasi internal di lingkungan sekolah.
Saat salah satu awak media mempertanyakan alasan gerbang sekolah digembok, seorang guru menyampaikan bahwa hal tersebut dilakukan agar siswa tidak keluar masuk sekolah secara sembarangan. Namun, alasan tersebut dinilai tidak tepat.
Idealnya, jika gerbang sekolah digembok, harus ada petugas atau penjaga sekolah yang berjaga. Faktanya, tim media justru mengalami kesulitan untuk masuk ke lingkungan sekolah dan harus memanggil guru yang melintas agar gerbang dapat dibukakan.
Selain persoalan akses dan kepemimpinan, kondisi sarana dan prasarana sekolah juga menuai sorotan.
Tim media menemukan fasilitas toilet siswa laki-laki dalam kondisi jauh dari kata layak. Toilet terlihat kotor, tidak tersedia gayung, serta terdapat kotoran di kloset. Kondisi ini dinilai sangat memprihatinkan dan tidak mencerminkan standar fasilitas pendidikan yang sehat dan manusiawi.
Tak hanya itu, sejumlah kaca jendela ruang belajar siswa juga ditemukan dalam keadaan pecah. Lingkungan sekolah yang kurang terawat ini tentu berdampak pada kenyamanan dan keselamatan peserta didik dalam menjalani proses belajar mengajar.
Diketahui, SMP Negeri 3 Siborongborong memiliki jumlah siswa sebanyak 338 orang. Pada tahun 2025, sekolah ini tercatat menerima dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dengan total sebesar Rp392.080.000. Dari jumlah tersebut, alokasi untuk pemeliharaan sarana dan prasarana (sarpras) tercatat sebesar Rp37.431.500. Sementara itu, kondisi fisik sekolah yang masih tampak kurang terawat menimbulkan pertanyaan publik terkait efektivitas dan realisasi penggunaan dana tersebut.

Cat gedung sekolah terlihat lusuh, perawatan pengecatan dinilai diabaikan, dan tidak tampak adanya pemeliharaan bertahap yang signifikan. Kondisi ini dinilai tidak sebanding dengan besarnya anggaran yang dialokasikan untuk perawatan sarana dan prasarana.
Perlu diketahui, Kepala Sekolah SMP Negeri 3 Siborongborong, Antonius Sinaga, disebut telah menjabat lebih dari enam bulan. Namun, hingga kini dinilai belum menunjukkan terobosan berarti dan masih menerapkan pola kepemimpinan lama yang dinilai kurang responsif terhadap kebutuhan sekolah.
Atas berbagai temuan tersebut, publik berharap pihak sekolah, khususnya Kepala Sekolah SMP Negeri 3 Siborongborong, segera memberikan klarifikasi dan penjelasan secara terbuka. Transparansi dan akuntabilitas dinilai penting agar tidak menimbulkan spekulasi liar serta demi memastikan hak peserta didik untuk mendapatkan lingkungan pendidikan yang aman, bersih, dan layak. (AM)






